http://cozypan.com

Polisi Bongkar Jaringan Curanmor yang Kerap Beraksi di Minimarket

loading…

Pelaku curanmor dibekuk polisi. Foto/Ilustrasi/SINDOnews

JAKARTA – Polres Jakarta Selatan meringkus tujuh pelaku pencurian kendaraan bermotor. Pelaku kerap menyasar kendaraan yang terparkir di minimarket yang ada di sekitar Jakarta Selatan.

Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Indra Jafar mengatakan, pelaku ditangkap setelah identitas pelaku berhasil diketahui usai melakukan penyelidikan dari hasil kamera Closed Circuit Television (CCTV) yang ada di sebuah minimarket di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan.

“Pertama kami menangkap dua pelaku HI dan N, mereka berdua bertugas sebagai pemetik atau eksekutor yang mengambil sepeda motor,” kata Indra di Jakarta, Rabu (28/11/2018).

Dia menegaskan, dari keterangan keduanya, petugas menangkap pimpinan dari kelompok ini yaitu HS alias B yang memfasilitasi keduanya dan menampung kendaraan hasil curian.

“Dia ini kaptennya, dari dia kemudian motor curian langsung diserahkan ke tiga orang joki yaitu H, AR dan B,” ucap Indra.

Motor hasil curian kemudian dibawa ke Karawang, Jawa Barat, untuk dijual di wilayah tersebut seharga Rp3 Juta.

Di Karawang, pihaknya juga menangkap seorang penadah yang berinisial M. Dari tangan M, kemudian sepeda motor dijual kepada masyarakat dengan harga Rp4-5 juta.

“Jadi kelompok ini sudah sangat profesional, karena jaringan mereka sudah sangat kuat sehingga barang hasil curian juga sudah ada yang menampung,” jelasnya.

Pelaku melakukan aksinya juga masih dengan cara yang lama. Pemetiknya yaitu HI dan N mencari sasaran di Jakarta Selatan menggunakan sepeda motor. Bila ada sasaran maka mereka akan berpura-pura memarkirkan kendaraannya di samping motor target.

“Salah satu dari mereka turun dan langsung beraksi menggunakan kunci leter T,” tegasnya.

setelah itu keduanya kabur dan langsung menyerahkan sepeda motor joki yang telah disiapkan di suatu tempat. Dalam sehari mereka bisa mencuri sebanyak lima unit motor.

AR salah satu joki yang membawa motor mengaku, sekali jalan dirinya mendapat uang Rp500.000. Menurutnya dia langsung membawa sepeda motor tersebut kepada N.

“Jadi saya langsung janjian disatu tempat terus langsung bawa ke Karawang,” ujarnya. Dia juga mengakui dalam seminggu bisa membawa empat hingga lima sepeda motor.

(mhd)

Mobil Pikap Rombongan Santri Terbalik, Korban Tewas Menjadi Tiga Orang

loading…

Belasan santri Miftahul Huda Semanan mengalami kecelakaan di dekat Flyover Green Lake City, Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, Minggu (25/11/2018). Foto: KORAN SINDO/Hasan Kurniawan

TANGERANG – Korban meninggal dalam kecelakaan rombongan santri Miftahul Huda Semanan di Jalan Boulevard Green Lake, Cipondoh, Tangerang, bertambah menjadi tiga orang.

“Korban tewas ada tiga orang, terdiri dari Syaif Ali Maulana (14), Mahmud Hanafi (16), dan Sofyan,” ujar Kasatlantas Polres Metro Tangerang Kota AKBP Ojo Ruslan, kepada KORAN SINDO, Minggu (25/11/2018).

Sebelumnya diberitakan, satu orang tewas dalam kecelakaan mobil pikap yang tumpangi rombongan santri, sepulang dari acara peringan Maulid Nabi di Pondok Pesantren KH Rosyid.

Selain itu, puluhan orang lainnya dilaporkan dibawa ke sejumlah rumah sakit, yakni RS Karang Tengah Ciledug, RS Bhakti Husada, dan RSUD Kabupaten Tangerang.

(thm)

Rel Stasiun Gambir Bermasalah, Perjalanan KRL Hanya Sampai Manggarai

loading…

JAKARTA – Perjalanan KRL Commuter Line kembai mengalami gangguan. PT Kereta Commuter Indonesia dalam akun Twitter-nya menginformasikan terjadi gangguan operasional pada rel di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat.

“Terdapat gangguan operasional pada rel di Stasiun Gambir, saat ini masih dalam penanganan unit terkait,” tulis @CommuterLine, Kamis (22/11/2018) petang ini.

Dampak dari gangguan rel itu, perjalanan KRL dari arah Bogor menuju Kota hanya sampai Stasiun Manggarai. “KA 1175 (Bogor-Jakarta Kota) perjalanan hanya sampai Stasiun Manggarai, kembali sebagai KA 1176 (Manggarai-Bogor),” cuit @CommuterLine.

Kondisi yang sama juga dialami perjalanan KRL dari Bekasi menuju Jakarta sore ini.

“KA 1403 (Bekasi-Jakarta Kota) perjalanan hanya sampai Stasiun Manggarai, kembali sebagai KA 1404 (Manggarai-Bekasi),” tweet @CommuterLine.

Sebelumnya, akibat hujan deras disertai angin kencang yang terjadi Kamis (22/11/2018) sore, menyebabkan pohon tumbang dan berimbas pada aktivitas KRL di antara Stasiun Palmerah-Tanah Abang-Manggarai terganggu. Listrik aliran atas Tanah-Abang Manggarai sempat dipadamkan guna proses evakuasi.

(thm)

Ini 35 Adegan Prarekonstruksi Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi

loading…

Polda Metro Jaya menggelar prarekonstruksi pembunuhan satu keluarga di Pondok Melati, Kota Bekasi.Foto/SINDOnews/Ari Sandita Murti

JAKARTA – Polda Metro Jaya menggelar prarekonstruksi kasus pembunuhan satu keluarga di Pondok Melati, Kota Bekasi. Dalam prarekonstruksi itu ada 35 adegan yang dipergakan oleh tersangka HS.

Prarekonstruksi ini digelar di Mapolda Metro Jaya pada Senin (19/11/2018).

“Jadi saya bacakan tiap adegannya, yang mana diikuti oleh tersangka HS memperagakannya,” ungkap Kanit I Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kompol Malvino Edward dalam prarekonstruksi tersebut.

Menurutnya, sebanyak 35 adegan yang dipergakan dalam prarekonstruksi itu merupakan hasil keterangan HS pada polisi. Adapun ke 35 adegan itu sebagai berikut.

Adegan 1, dimulai dengan tersangka HS datang ke rumah dan mengetuk pintu.

Adegan 2, HS tiba di rumah korban pada Senin, 12 November lalu, pukul 21.00 WIB, HS ketuk pintu rumah dan yang membukakan pintu anak korban bernama Sarah, HS lalu masuk ke rumah.

Adegan 3, HS masuk rumah dan mengobrol bersama Diperum dan Maya di ruang keluarga sambil nonton tivi.

Adegan 4, saat sedang mengobrol, HS mendengar kata-kata tak enak keluar dari mulut Diperum Nainggolan, yakni nginep tidak, kalau kamu nginep nanti tak enak sama Abang kita, Douglas.

Adegan 5, korban Maya Ambarita bilang, terserah mau nginep tidaknya karna ini bukan rumah kita, kita cuma numpang disini.

Adegan 6, korban Diperum berkata sudah tahu kamu kalau HS nginep disini abang saya tak suka.

Adegan 7, korban Diperum berkata dengan bahasa daerahnya yang artinya kamu tidur di belakang saja, kayak sampah kamu.

Adegan 8, setelah mendengar kata-kata itu, HS emosi dan marah di dalam dadanya.

Adegan 9, di benak HS sudah berpikirian untuk membunuh Diperum dan Maya dengan memukulkan linggis yang ada di dapur deket wastafel.

Adegan 10, HS beranjak ke dapur dan mengambil linggis itu, sedang Maya dan Diperum sudah tidur.

Adegan 11, secara sadar dan emosi HS melihat Diperum di ruang tengah sudah tidur dalam posisi miring.

Pembunuh Satu Keluarga di Bekasi Terancam Hukuman Mati

loading…

Polda Metro Jaya menggelar jumpa pers terkait kasus pembunuhan satu keluarga di Bekasi. Foto/Ari Sandita Murti/SINDOnews

JAKARTA – Polisi telah menetapkan Haris Simamora (HS) sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan satu keluarga di Jalan Bojong Nangka II, RT02/07, Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi dan menahannya. Pelaku yang juga masih saudara korban ini terancam hukuman mati.

Wakapolda Metro Jaya, Brigjen Wahyu Hadiningrat mengatakan, pengungkapan kasus tersebut berdasarkan kerja keras dan baiknya koordinasi di antara tim gabungan Ditreskrimum Polda Metro Jaya dan Polres Bekasi Kota. Maka itu, pelaku pun berhasil ditangkap di Jawa Barat.

“Tindak pidana yang terjadi yaitu pembunuhan berencana dan pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan kematian, Pasal 365 KUHP ayat 3, 340 KUHP, dan 338 KUHP dengan ancaman hukuman mati,” kata Wahyu saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (16/11/2018).

Menurutnya, HS dijerat dengan pasal berlapis karena telah menghilangkan nyawa empat orang, yang mana merupakan satu keluarga. Adapun pelaku melakukan aksi jahatnya itu karena sakit hati.

“Modusnya, pelaku ini, HS melakukan pembunuhan dengan linggis, dimana linggis itu didapatkan dari brangkas di rumah korban,” katanya.

(mhd)

Olah TKP Matang, Pembunuh Satu Keluarga di Bekasi Pasti Terungkap

loading…

Petugas Polrestro Bekasi melakukan olah TKP di lokasi pembunuhan yang dikabarkan korbannya merupakan satu keluarga.Foto/Istimewa

BEKASI – Polisi hingga kini masih menyelidiki kasus dugaan pembunuhan yang dialami satu kelaurga di Jalan Nangka, Pondok Gede, Bekasi. Bila dalam olah TKP itu matang, pelaku pun dipastikan terungkap.

Karopenmas Div Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, saat ini Tim Dokter Forensik RS Polri tengah melakukan autopsi pada keempat jenazah korban dugaan pembunuhan di Pondok Gede, Bekasi. Adapun hasilnya belum bisa dibeberkan kepada publik.

“Hasil dari autopsi nanti dari dokter forensik pihak RS Polri yang sampaikan,” ujarnya kepada wartawan di RS Polri, Kramat Jati, Selasa (13/11/2018).

Terkait persoalan CCTV di lokasi kejadian, kata dia, itu merupakan teknis penyidik dalam mengetahui pelakunya. Sedangkan terkait dugaan pembunuhan dalam kasus itu, dipastikan pelaku bakal terungkap.

“Biasanya kalau ini murni pembunuhan, yakni pasal 338 KUHP atau 340 KUHP, saat olah TKP itu mateng, 75 persen kasus itu pasti terungkap,” tuturnya.

Namun, apabila itu merupakan kasus pencurian ataupun kekerasan akan menjadi persoalan lain lagi dan tak mudah diungkap begitu saja sebagai mana kasus pembunuhan.

(thm)

RS Polri Kembali Terima Satu Kantong Jenazah Penumpang Lion Air

loading…

Kantong jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 tiba di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Foto/Ilustrasi/SINDOphoto

JAKARTA – Hingga hari ke-13 jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin 29 Oktober, Rumah Sakit (RS) Polri Kramatjati, Jakarta Timur masih melakukan proses identifikasi korban. Total kantong jenazah yang sudah diterima RS Polri hingga kini berjumlah 195 kantong.

Kabid Operasi Tim DVI Pusdokkes Polri, Kombes Lisda Cancer mengatakan, pada Jumat 9 November 2018, pihaknya telah menerima 194 kantong jenazah. Namun, pada malam harinya RS Polri menerima kembali satu kantong jenazah.

“Satu kantong baru diterima RS Polri pada Jumat (9 Novemeber) kemarin malam, sehingga totalnya sudah ada 195 kantong,” ujar Lisda pada wartawan, Sabtu (10/11/2018).

Menurutnya, satu kantong yang baru diterima itu bakal diperiksa oleh Tim DVI Polri yang ada di pos postmortem guna memeriksa body part (bagian tubuh) yang ada di kantong tersebut. Maka itu, belum diketahui ada berapa body part dalam kantong itu.

Sedang terkait identifikasi, tambahnya, hingga kini sudah ada 77 penumpang yang berhasil teridentifikasi. “Hingga kini Tim DVI Polri sudah mengidentifikasi 77 penumpang, yang terdiri dari 57 orang laki-laki dan 20 orang perempuan,” katanya.

(mhd)

Total Polisi Sudah Terima 502 DNA Postmortem Penumpang Lion Air JT-610

loading…

Vice Commander DVI Polri, Kombes Triawan Marsudi, memberikan keterangan pers di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (7/11/2018). Foto: SINDOnews/Ari Sandita Murti

JAKARTA – Polisi masih terus melakukan proses pemeriksaan data postmortem pada penumpang pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. Hingga kini sudah ada 502 data postmortem atau data-data fisik khas korban sebelum meninggal, yang didapat Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.

Vice Commander DVI Polri, Kombes Triawan Marsudi, mengatakan, hingga kini pihaknya masih melakukan pemeriksaan dan pengambilan sampel data postmortem pada penumpang jatuhnya pesawat Lion Air JT-610. Adapun hingga Rabu (7/11/2018) ini, sudah ada 185 kantong jenazah yang diterima RS Polri.

Data pada Selasa, 6 November kemarin, kata dia, ada 163 kantong jenazah terdiri atas 502 body part (potongan tubuh). “Hingga kini kami sudah melakukan pengambilan sampel DNA (genetik) sebanyak 502, itu belum termasuk yang 22 kantong jenazah yang diterima semalam,” ujarnya kepada wartawan, di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Menurut dia, sebanyak 502 dua sampel DNA dari 163 kantong jenazah itu sudah dikirimkan ke Laboratorium DNA Pusdokkes Polri guna proses pemeriksaan dan profiling. Namun dia belum dapat memastikan kapan hasil sampal DNA itu bakal keluar.

“Untuk data antemortem jumlahnya masih sama, ada sebanyak 256 data dari pelapor (keluarga penumpang). Sebanyak 213 dari laporan di RS Polri dan 43 laporan dari Polda Bangka Belitung,” pungkasnya.

(thm)

Dari 163 Kantung Jenazah, Baru 27 Penumpang yang Teridentifikasi

loading…

Tim DVI Polri hingga Selasa ini sudah berhasil mengidentfikasi sebanyak 27 orang dari total 163 kantung jenazah yang diterima RS Polri. Foto: SINDOnews/Dok

JAKARTA – Tim DVI Polri hingga Selasa ini sudah menerima sebanyak 163 kantung jenazah penumpang pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Dari 163 kantung jenazah itu sudah didapat 429 sampel DNA/genetik.

“Data postmortem dari DNA sebanyak 429 sampel,” ujar Kabag Opsnal Pusdokkes Polri, Kombes Triawan, kepada wartawan, Selasa (6/11/2018).

Menurut dia, 429 sampel DNA tersebut merupakan data postmortem atau data-data fisik khas korban sebelum meninggal. Data itu  diambil dari bagian tubuh yang ada pada 163 kantung jenazah tersebut.

Kombes Triawan menyebutkan, dari 163 kantung jenazah itu, sejauh ini baru teridentifikasi sebanyak 27 orang. “Kegiatan identifikasi, sudah teridentifikasi 27 jenazah. Terdiri atas perempuan sebanyak sembilan penumpang dan laki-laki 18 penumpang,” katanya. (Baca juga: Ini Daftar Penumpang dan Kru Lion Air yang Jatuh di Tanjung Karawang)

Adapun 27 penumpang itu, yakni Jannatun Cyntia Dewi (24), Endang Sri Bagusnita (20), Wahyu Susilo (31), dan Fauzan Azima (25), Chandra Kirana (29), Hizkia Jorry Saroinsong (23), Monni (41), Rohmanir Pandi Sagala (23), Dodi Junaidi (40), Muhammad Nasir (29), Janry Efriyanto Sianturi (26), Karmin (68), dan Harwinoko (54).

Selanjutnya, Verian Utama (31), Reni Aryanti (51), Muhammad Ravi Andrian (24), Eryanto (41), Vera Junita (22), Resti Amelia (27), Fifi Hajanto (42), Dede Anggraini (40), Petrous Rudolf Sayers (58), Eka Suganda (49), Niar R Soegiyono (39), Sudibyo Onggo Wardoyo (40), Hendra (39), dan Mito (37).

(thm)

KNKT Sebut Data FDR Pesawat Lion Air JT-610 Masih Proses Verifikasi

loading…

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan, setelah pihaknya melakukan pengunduhan data-data dari FDR, saat ini masih dalam proses verifikasi, Senin (5/10/2018). Foto/SINDOnews/Komaruddin Bagja.

Setelah suskses mengunduh data yang ada di dalam Flight Data Recorder (FDR), Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih melakukan verifikasi. KNKT berharap black box berisi Cockpit Voice Recorder (CVR) juga bisa ditemukan untuk menganalisa seluruh data secara utuh.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan, setelah pihaknya melakukan pengunduhan data-data dari FDR, saat ini masih dalam proses verifikasi. Soerjanto mengatakan, KNKT akan menganalisa data-data tersebut setelah data yang ada di FDR terverifikasi.

“Saat ini tim sedang pelajari data yang telah diunduh dari FDR, sekarang dalam proses verifikasi,” ujar Soerjanto dalam jumpa pers di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta, Senin (5/11/2018).

Menurut Soerjanto, setelah data yang ada di FDR diverifikasi, pihaknya baru bisa melakukan analisa dugaan jatuhnya pesawat Lion Air di perairan Karawang, Jawa Barat.

Adapun satu bagian kotak hitam atau black box CVR  masih dalam proses pencarian. Karena itu, ia berharap kotak hitam CVR bisa segera ditemukan, agar KNKT bisa segera menganalisa data-data dengan tepat.

“Jadi ada satu kotak yang berisi rekaman suara percakapan dari pesawat ke menara pengawas antara kapten SBOBET dan kopilot dan warna suara di dalam kokpit. selama penerbangan dan suara komunikasi kokpit sama cabin. Mudah-mudahan tidak dalam waktu lama salah satu kotak bisa kita temukan, sehingga analisa kami bisa lebih tepat,” lanjutnya.

Meskipun begitu, lanjut Soerjanto, jika  CVR belum bisa ditemukan, pihaknya akan berupaya menginvestigasi penyebab kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 dengan data yang ada.

“Kami akan berusaha maksimal mungkin untuk bisa menemukan penyebabnya meski nanti proses pencarian sudah dinyatakan selesai,” katanya.

KNKT, lanjutnya, akan berusaha menemukan kotak CVR untuk mengetahui secara pasti penyebab kecelakaan Lion Air. “Jadi kita akan berusaha sekuat tenaga temukan salah satu cari black box,” tutupnya.

 

Pushidrosal Fokus Cari CVR Black Box Lion Air JT-610

loading…

Sejumlah kapal Basarnas, TNI AL, Polri dan Bakamla sedang melakukan operasi pencarian di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Jumat 2 November 2018. Foto/SINDOnews/Yorri Farli

JAKARTA – Pusat Hidrografi dan Oseanograf TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) masih terus mencari keberadaan Cockpit Voice Recorder (CVR) milik Lion Air JT-610 PK-LQP di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

“CVR masih belum ketemu memang masih agak sulit, saya coba optimalkan mudah-mudahan bisa ketemu karena kuncinya di situ,” ujar Kapushidrosal Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro, di atas kapal KRI Sikuda, Minggu (4/11/2018).

CVR menjadi penting lantaran salah satu bagian black box itu berfungsi merekam pembicaraan antara pilot dan co-pilot di dalam ruang kemudi.

Nantinya, setelah ditemukan, CVR akan dibawa ke Lab Forensik Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk diperiksa isi pembicaraan sebelum Lion Air JT-610 kecelakaan.

“Kalau yang lain-lain saya kira sudah maksimum. Jadi mudah-mudahan bisa kita manfaatkan dengan waktu yang sedikit ini,” ungkapnya.

(dam)

93 Keluarga Korban Jatuhnya Lion Air Ikut Pendampingan Psikologis

loading…

Sebanyak 93 keluarga korban jatuhnya Pesawat Lion Air mengikuti pendampingan psikologi dari RS Polri. FOTO/SINDOphoto

JAKARTA – RS Polri mengerahkan puluhan psikolog dari berbagai universitas, TNI, dan Polri untuk melakukan pendampingan kejiwaan kepada keluarga penumpang pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di Perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat.

Kabid Operasi Tim DVI RS Polri Kombes Pol Lisda Cancer mengatakan, pada Sabtu (3/11/2018) ini, ada tambahan 24 keluarga yang dilakukan pendampingan psikologis di Posko Keluarga RS Polri, Kramatjati, Jakarta Timur. Pendampingan psikologis itu dilakukan untuk memulihkan kondisi mental keluarga penumpang yang kehilangan anggota keluarganya.

“Untuk pendampingan psikologi sudah ada 93 keluarga yang diberikan pendampingan oleh tim psikolog. Kemarin kan ada 69 keluarga,” Kata Lisda kepada wartawan, Sabtu (3/11/2018).

Namun, dia tak merinci tentang teknis pendampingan psikologis kepada keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air. Pendampingan psikologis itu dilakukan oleh Tim Psikolog di RS Polri sejak Senin (29/10/2018) hingga saat ini.

Kepala Analisis Kebijakan Devisi Humas Mabes Polri Kombes Pol Slamet Pribadi sebelumnya menerangkan, pendampingan psikologis itu penting dilakukan bagi keluarga penumpang Lion Air yang secara mental masih merasakan kehilangan mendalam.

Tak sedikit keluarga yang sampai sakit dan kelelahan karena memikirkan anggota keluarga yang belum teridentifikasi itu. Selain pendampingan psikoligis, ada juga trauma healing, dan juga siraman rohani.

“Pendampingan dilakukan karena ada yang sampai di-opname karena sakit,” katanya. (Baca juga: Belasan Keluarga Korban Lion Air Kembali Jalani Pendampingan Psikologi)

(amm)

Belasan Keluarga Korban Lion Air Kembali Jalani Pendampingan Psikologi

loading…

Keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 mendapat pendampingan psikologi di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Jumat (2/11/2018). Foto: dok/SINDOphoto

JAKARTA – Puluhan psikolog di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur kembali melakukan pendampingan pada keluarga korban jatuhnya pesawar Lion Air JT 610. Adapun saat ini, total keluarga yang diberikan pendampingan sebanyak 69 keluarga.

Wakil Kepala RS Polri, Kramat Jati, Kombes Haryanto mengatakan, kemarin ada 53 keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air yang diberikan pendampingan psikologis di Posko Keluarga RS Polri. Adapun pikolog yang dikerahkan sebanyak 20 orang lebih.

“Untuk hari ini, pendampingan psikologis ada sebanyak 69 (keluarga), pelaksanaannya diperbaiki dari waktu ke waktu,” ujarnya pada wartawan, Jumat (2/11/2018).

Adapun pendampingan psikologis keluarga itu dilakukan guna meringankan beban keluarga yang mengalami syok dan kesedihan yang mendalam akibat kehilangan anggota keluarganya.

Pendampingan juga bentuk pelayanan pada masyarakat, khususnya keluarga korban dari RS Polri, Kramat Jati. “Selain pendampingan psikologis, kita juga kan ada trauma healing, yang mana dilakukan untuk memulihkan kondisi psikologis pihak keluarga,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Analisis Kebijakan Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol Slamet Pribadi menambahkan, psikolog yang melakukan pendampingan pada keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air di Posko Keluarga RS Polri itu berasal dari berbagai Universitas, TNI, dan Polri.

“Pendampingan dilakukan karena ada yang sampai di opname karena sakit kan,” katanya.

(ysw)

Tim DVI Periksa 8 Kantong Jenazah Baru untuk Ambil Data Postmortem

loading…

Kantong mayat yang berisi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 saat tiba di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur. Foto: dok/SINDOphoto

JAKARTA – RS Polri kembali menerima 8 kantong jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat. Delapan kantong jenazah itu tiba di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur pada Rabu, 31 Oktober 2018 kemarin dan baru diambil data postmotem hari ini.

Kepala RS Polri, Kombes Musyafak mengatakan, sebelumnya RS Polri menerima 48 kantong jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. Adapun 48 kantong jenazah itu telah direkonsiliasi oleh Tim DVI Polri, hasilnya ada satu korban yang teridentifikasi, yakni Janatun Cyntia Dewi.

“Dan Rabu, 31 Oktober kemarin kita terima lagi 8 kantong jenazah, yang mana saat ini tengah dilakukan pemeriksaan body part guna pengambilan data postmortem,” ujarnya pada wartawan, Kamis (1/11/2018).

Menurutnya, 8 kantong jenazah itu bakal dilakukan rekonsiliasi oleh Tim DVI Polri. Maka itu, total kantong jenazah yang saat ini sudah ada di RS Polri berjumlah 56 kantong.

“Jadi total 56 kantong jenazah, hari pertama 24, hari kedua 24, hari ke 3 ada 8. Dari 56 ini ada sebanyak 238 body part, yang mana sampelnya sedang diambil dan kita periksa,” tuturnya.

(ysw)