http://cozypan.com

Bantu Operasional MRT, LRT Bakal Dirancang Melingkar

loading…

Light Rail Transit (LRT) Jakarta. Foto/Ilustrasi/SINDOphoto

JAKARTA – Demi membantu operasional Mass Rapid Transit (MRT), PT Jakarta Propertindo (Jakpro) bakal merancang pembangunan Light Rapid Transit (LRT) secara Loopline (melingkar). Pembangunan akan dibuat memenuhi kebutuhan transportasi pinggiran Jakarta.

Hal itu diungkapkan Direktur Proyek LRT, PT Jakpro, Iwan Takwin. Dia mengatakan, rancangan proyek LRT jakarta sengaja dibuat untuk membantu transportasi masyarakat pinggiran Jakarta.

Karenanya, kata dia, setelah pembangunan LRT dari Velodrome ke Kelapa Gading, pembangunan akan dilanjutkan ke Tanah Abang melintasi Manggarai.

Baca Juga:

“Kemudian kami juga akan membuat LRT hingga ke Bandara Soekarno-Hatta. Tapi realisasi itu masih lama,” kata Iwan ketika dihubungi, Kamis 24 Januari 2019.

Iwan kemudian menyakini, LRT bakal menjawab transportasi masyarakat Jakarta di masa mendatang. Desainya yang fleksibel dan operasi mesin yang otomatis membuat LRT mampu menjangkau pinggiran Jakarta.

Terlebih saat ini LRT berkomitmen untuk membangun transportasi ramah disabilitas. Karenanya pembangunan stasiun akan dibuat lebih nyaman, salah satunya dilengkapi lift dan space peron yang dibuat khusus penyandang. Termasuk soal desain kereta yang dilengkapi space kursi roda.

Sementara mengenai dipilih pembangunan di Kelapa Gading. Iwan beralasan saat itu Pemprov DKI membutuhkan tanah luas untuk membangun Depo. Dengan anggaran hanya 6,8 triliyun Jakpro harus memanfaatkan, termasuk untuk membangun stasiun dan depo.

“Kebetulan saat itu hanya ada tanah di kelapa gading. Tanah itu milik dki yang kini telah di bangun depo,” lanjut Iwan.

Depo LRT yang dibangun di atas lahan 10 hektar itu nantinya menjadi bengkel serta garasi sejumlah kereta. Pengamanan maksimal dilakukan mulai dari memagari, menyebar Closed Circuit Television (CCTV), hingga menempatkan petugas jaga. Pembangun Depo di sana menghabiskan dana Rp2,5 triliun.

Dari depo ini pihaknya kemudian mengembangkan jaringan rel hingga ke velodrome yang mengarah ke selatan depo. Sementara untuk ke arah barat, LRT bakal merancang jalur ke arah Stadion BMW yang nanti akan menjadi markas Persija Jakarta.

Setelah nantinya tersambung lintas stadion BMW, maka LRT akan di maksimalkan hingga ke kawasan Bandara Soekarno Hatta.

Mengenai tudingan sejumlah pihak yang menyebutkan LRT Jakarta mahal. Iwan beralasan, harga tanah di Jakarta yang relatif mahal membuat nilai investasi pembangunan sangat besar, untuk fase 1 dari Kelapa Gading-Velodrome, PT Jakpro telah menghabiskan dana Rp6,8 triliun termasuk membeli kereta dan membangun lima stasiun.

Meski begitu, Iwan mengakui nilai itu sangat murah bila membandingkan dengan LRT di beberapa kota besar dunia. Pada LRT Jakarta, Iwan mencatat sebagian besar pembangunan dihabiskan untuk membangun depo dan membayar pajak yang mencapai Rp1,6 triliun.

“Artinya dengan jarak 5,8 kilometer. Tercatat LRT menghabiskan dana Rp460 miliar per satu kilometernya,” tuturnya.

Direktur Utama PT LRT, Allan Tandiono tak menyangkal akan hal itu. Ia mengakui hampir semua pembangunan LRT dilakukan untuk membangun Depo dan membayar pajak.

“Lagi pula kontruksi kami cukup tebal dan kuat,” ucap Allan.

Allan sadar sebagai transportasi baru, LRT membutuhkan pengalaman untuk operasional nantinya. Karenanya kerja sama dilakukan pihaknya dengan menggandeng TransJakarta untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia.

Termasuk dengan menarik minat masyarakat menggunakan LRT. Allan mengatakan, pihaknya sudah menekan MoU dengan TransJakarta. Mengintegrasian dilakukan untuk membuat LRT diminati masyarakat.

“Jadi bisa dikatakan kami bekerja sama. Nantinya di mana ada stasiun disitu ada transjakarta,” ucapnya.

Selain mengintegrasian, LRT Jakarta juga akan dibangunan di beberapa pusat keramaian publik, seperti ruko pusat perbelanjaan, hingga stadion.

“Ibarat badan, LRT nantinya akan menjadi rusuk membantu transportasi masyarakat dari rumah menuju transportasi utama MRT,” tutupnya.

(mhd)