http://cozypan.com

Ini Kata Psikolog Soal Maraknya Pelaku Kejahatan Gunakan Senpi

loading…

DEPOK – Maraknya senjata api (senpi) yang kerap digunakan pelaku kriminalitas sebagian besar merupakan senjata rakitan. Sisanya mungkin senjata resmi yang hilang ataupun senjata sisa konflik dan jika dimiliki personal artinya kepemilikannya bersifat ilegal.

Hal itu disampaikan Psikolog Universitas Pancasila (UP) Maharani Ardhi Putri. Kata dia, untuk mendapatkan senpi secara resmi pastinya terdapat persyaratan yang ketat dan diperlukan rekomendasi dari kepolisian sehingga tidak semua orang bisa mendapatkannya.

“Maraknya senjata rakitan juga bisa dikarenakan mudahnya mengakses informasi untuk membuat senpi rakitan. Hal ini menyebabkan orang-orang yang membutuhkan untuk maksud tertentu, berusaha untuk mencoba membuat. Dan karena manusia memiliki kemampuan untuk belajar tentunya mereka juga dapat mengembangkan teknik pembuatannya,” kata Maharani kepada SINDO, Selasa 15 Januari 2019.

Baca Juga:

Dia menegaskan, senjata api hanya bisa diberikan kepada warga sipil apabila mereka berpotensi mendapat ancaman karena pekerjaannya. Ketentuan yang mengizinkan warga sipil memiliki senjata untuk kepentingan membela diri diatur dalam aturan yang telah ditetapkan.

“Dalam aturan yang tertuang dalam SK Kapolri disebutkan ada lima kategori perorangan/ pejabat yang diperbolehkan memiliki senjata api, yakni pejabat pemerintah, pejabat swasta, pejabat TNI/Polri, purnawirawan TNI/Polri,” paparnya. (Baca juga: Tembaki Polisi, Dua Curanmor Kelompok Lampung Ditembak Mati)

Nekatnya pelaku kejahatan menggunakan senpi saat bertindak dan melukai anggot kepolisian, menurut Putri, hal itu bisa disebabkan karena beberapa faktor. Antara lain mereka dalam keadaan terdesak atau panik sehingga tidak lagi memandang siapa korbannya. Bisa juga karena belum ada atau belum tersosialisasikannya aturan hukum yang memberikan ancaman hukuman yang berat terhadap pelaku tindak pidana yang melawan polisi.

“Atau bisa juga karena pelaku kriminal memiliki gangguan kepribadian sehingga mereka tidak merasa takut atau bersalah dalam melakukan kejahatannya dan merasa mampu untuk lolos dari hukum,” pungkasnya.

(mhd)