http://cozypan.com

Jabat Kapolda Metro, Gatot Harus Bisa Berantas Isu SARA Saat Pemilu

loading…

Tugas berat disandang Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono untuk menciptakan kondisi aman dan terbebas dari SARA dalam penyelenggaraan Pemilu serentak 2019 di Ibu Kota. Foto/Istimewa

JAKARTA – Tugas berat disandang Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono untuk menciptakan kondisi aman dan terbebas dari SARA dalam penyelenggaraan Pemilu serentak 2019 di Ibu Kota. Namun Gatot diyakini mampu menciptakan situasi kondusif tanpa isu SARA di Ibu Kota saat perhelatan pesta demokrasi lima tahunan ini.

Pengalaman dan pemikiran Gatot sebagai doktor krimonologi menjadi alasannya. Anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni mengatakan, sebelum menjadi Kapolda Metro Jaya, Gatot juga telah mengenal dengan baik karakter kehidupan maupun kriminalitas di ibu kota. Lulusan Akpol 88 ini sempat menjabat sebagai Kapolres Jakarta Selatan pada 2009 dan kemudian dipercaya sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya di 2011.

Berbicara pendidikan dan konsep pemikiran, Gatot Eddy yang pada tahun 2015 masih berpangkat Brigjen berhasil meraih gelar Doktor Kriminologi Universitas Indonesia (UI). Gatot meraih gelar itu dengan mempertahankan disertasi berjudul “Transformasi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Menjadi Kelompok Kekerasan (Studi terhadap Kekerasan Kelompok oleh Empat Ormas di Jakarta)”. Ormas yang menjadi subjek penelitian Gatot adalah Forum Betawi Rempug (FBR), Pemuda Pancasila, Forkabi, dan Kembang Latar.

Baca Juga:

“Saya yakin Irjen Gatot Eddy Pramono sebagai Kapolda Metro Jaya nantinya akan mampu mengamankan stabilitas di Ibu Kota, khususnya saat Pemilu Serentak 17 April mendatang. Gatot memiliki rekam jejak bagus dalam pengalaman maupun akademisi. Dia mengenal karakter Jakarta sejak menjabat sebagai Kapolres Jakarta Selatan dan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya,” kata Sahroni dalam siaran pers yang diterima SINDOnews, Selasa (22/1).

Politisi NasDem ini menambahkan, pengalaman Gatot sebagai Kepala Satgas Nusantara sejak awal 2018 akan berdampak positif pada penanganan potensi gangguan gangguan Kantibmas dalam pesta demokrasi di Ibu Kota. Bermodalkan kemampuan tersebut, Sahroni berharap Gatot mampu mengeliminir isu SARA sehingga dinamika politik saat Pilkada DKI yang sarat dengan isu agama tak terulang di Pemilu serentak yang digelar 17 April 2019.

“Pilkada DKI 2017 yang masih memunculkan isu SARA sehingga menciptakan dinamika politik dan melemahkan hubungan bermasyarakat menjadi pelajaran. Ini adalah tantangan Kapolda Metro Jaya dalam mengamankan Ibu Kota saat Pemilu serentak. Saya berharap dan optimistis Gatot dengan berbagai pengalamannya mampu mengeliminir isu SARA di Ibu Kota,” tutur Sahroni.

Selain sosok Kapolda Metro Jaya, profil lain yang menjadi sorotan Sahroni dalam mutasi Polri kali ini adalah Kabareskrim yang dijabat Irjen Pol Idham Azis. Sebelumnya Idham merupakan Kapolda Metro Jaya. Sahroni memandang Idham sangat layak mendapat kepercayaan sebagai Kabareskrim. “Keberhasilan mengamankan Polda Metro Jaya sejak menggantikan Irjen M Iriawan menjadi salah satu bukti kinerjanya,” jelasnya.

Ketegasan Idham dalam memimpin diharapkan Sahroni menjadi modal penting dalam membenahi dan meningkatkan kinerja Bareskrim. Isu adanya oknum bermain kasus maupun tebang pilih penanganan perkara yang saat ini masih tergambar di benak masyarakat diharapkan menghilang.

“PR terbesar Kabareskrim adalah membuktikan kepada masyarakat tak ada tebang pilih dalam penanganan perkara. Kabareksrim harus mampu memperlihatkan profesionalisme dan integritas jajarannya,” tandasnya.

Sahroni mengingatkan Idham sebagai pimpinan tertinggi Reserse Kriminal dapat terus memacu kinerja jajarannya di Direktorat IV Narkoba untuk menjadikan Indonesia tak lagi menjadi surga para bandar narkoba.

“Kinerja baik dalam pemberantasan narkoba harus terus ditingkatkan. Kerja sama dengan berbagai instansi ataupun elemen dalam pengawasan penyelundupan dan pabrik pembuat narkoba harus dimaksimalkan agar peredaran zat terlarang ini semakin menghilang. Tindak tegas oknum yang bermain dalam penanganan kasus atau bekerjasama dengan para bandar,” imbau Sahroni seraya mengingatkan pentingnya pemantauan narkoba jenis terbaru yang muncul di masyarakat.

(poe)