http://cozypan.com

Kisah Driver Ojol Awal Tahun, Mulai Heroik hingga Memalukan

loading…

JAKARTA – Transportasi online, terutama ojek online (ojol) telah menjadi fenomena baru di Indonesia. Mereka banyak membantu aktivitas masyarakat termasuk peningkatan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Dan kisah para pengemudi ojol ini selalu menjadi perhatian di masyarakat, baik yang heroik sampai yang memalukan.

Dari cerita heroik, driver Go-Jek di Palembang, Sumatra Selatan, berhasil menyelematkan dua anak yang nyaris tenggelam di sungai. Driver Go-Jek yang dimaksud adalah Susanto. Meski sadar diri tak bisa berenang, dia tetap nekat menceburkan diri ke sungai yang bermuara di Sungai Musi tersebut.

“Saya nekat karena anak itu butuh bantuan. Saya senang akhirnya anak itu bisa selamat,” katanya. Susanto mengaku sampai dua kali menyelam untuk mencari posisi bocah tersebut. Terlebih dasar sungai cukup dalam mencapai dua meter.

Baca Juga:

Beruntung, upayanya membuahkan hasil. Tubuh anak itu ditemukan di dasar sungai dan segera ditarik ke tepi. Dia pun tak mempedulikan lagi jaket Go-Jek yang basah kuyup. Termasuk juga sepatunya yang hilang di sungai lantaran tak sempat dilepaskan.

“Pulang dulu ganti baju, nanti ngojek lagi. Orderan bisa dicari, sepatu bisa dibeli. Saya iklas menolong nyawa bocah itu,” tukas Susanto. Aksi Susanto ini menambah daftar panjang kepedulian driver Go-Jek pada lingkungan sekitar.

Sebelumnya pernah terjadi aksi driver Go-Jek di Tasikmalaya menolong korban kebakaran yang sempat viral di media sosial. Di foto yang dibagikan di Facebook tersebut terlihat sejumlah driver GOJEK berupaya mengevakuasi korban dari rumah yang dilalap api.

Di Jakarta, ada Deni Pamungkas yang berinisiatif mengajak rekan-rekan sesama ojek online membuat gerakan bersih ranjau paku (GBRP). Gerakan ini bertujuan untuk menekan aksi kriminalitas di jalan raya bermodus ranjau paku.

“Ranjau paku sudah sangat mencemaskan dan menjadi masalah serius bagi pengguna jalan,” katanya kepada awak media, Jumat (25/1/2019).

Tidak melulu positif, aksi memalukan mitra ojol sampai harus diringkus polisi juga terjadi di awal tahun ini. Yulianto (40), mitra ojol Grab di Jombang, Jawa Timur, dilaporkan telah melakukan tindakan pencabulan kepada penumpangnya yang merupakan perempuan berusia 14 tahun pada 22 Januari 2019.

“YT (Yulianto) kami amankan. Kasusnya ditangani di unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak),” terang Kasatreskrim Polres Jombang, AKP Azi Pratas Guspitu, saat pemaparan kasus tersebut (22/1).

Kasus asusila itu, menurutnya, terjadi ketika pelaku menjemput korban di wilayah Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang Kota, sekitar pukul 18.30 WIB, Jumat (18/1/2019). Korban hendak pulang ke rumahnya di wilayah Kecamatan Peterongan, usai belajar kelompok di rumah temannya.

“Karena tidak ada yang jemput, korban pesan ojek online Grab lewat aplikasi di ponselnya,” Azi mengisahkan. Saat akhirnya sang ojol Grab datang, proses berlangsung normal. Sampai akhirnya korban diajak ke sebuah tempat nongkrong dan awalnya ajakan itu ditolak.

Korban akhirnya menyetujui ajakan pelaku setelah terus dirayu. Kesempatan itu pun dimanfaatkan pelaku. Untuk laporan ke perusahaan agar terlihat sudah mengantarkan penumpang sampai tujuan, pelaku melajukan kendaraan sampai dekat rumah korban.

“Namun tidak sampai rumah korban, pelaku berhenti dan mengkonfirmasi aplikasinya, pelanggan telah sampai ke tujuan. Selanjutnya aplikasi dimatikan,” Azi memaparkan.

Selanjutnya pelaku membonceng korban ke rumah kakaknya di Jalan Dr Soetomo, Kelurahan Jombatan. “Alasannya akan mandi dahulu sebelum ngopi,” bebernya.

Tak curiga, korban santai saja saat diajak pelaku masuk ke rumah. “Kebetulan korban juga perlu nge-‘charge’ ponselnya,” kata Azi.

Pelaku yang sudah tak sabar lantas menggiring korban masuk ke dalam kamar. “Di dalam kamar itulah, pelaku menidurkan korban di kasur lalu melakukan tindakan asusila,” bebernya.

Mendapat pelakuan seperti itu, korban memberontak dan mengancam berteriak-teriak minta tolong. “Akhirnya pelaku ketakutan dan menghentikan perbuatannya,” imbuhnya. Korban segera menghubungi teman-temannya minta dijemput, dilanjutkan menghubungi petugas.

(whb)