http://cozypan.com

Lagi, Warga Tangsel Penderita DBD Meninggal Dunia

loading…

Nuryati (42), ibunda korban, saat ditemui di rumah duka, RT 04/ RW 06, Nomor 16, Pondok Ranji, Ciputat Timur. Foto: SINDOnews/Hasan Kurniawan

TANGERANG SELATAN – Warga Kota Tangerang Selatan (Tangsel) penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali meninggal dunia. Kali ini korban diketahui bernama Andre Fernanda Sugara (24), warga Jalan Onta Raya, RT 04/ RW 06, Nomor 16, Pondok Ranji, Ciputat Timur.

Andre meninggal dunia pada Jumat, 25 Januari 2019 lalu sekira pukul 13.45 WIB. Nuryati (42), ibunda korban menceritakan, Andre meninggal dunia setelah 7 hari mendapatkan perawatan di RSU Tangsel. Sebelumnya dia dirawat di puskesmas.

“Awalnya dia mengeluh demam dan nyeri pada beberapa bagian tubuhnya. Lalu dibawa ke Puskesmas Pondok Ranji. Karena perlengkapan tidak memadai, lalu dirujuk ke RSU,” kata Nuryati, di rumahnya, Minggu (27/1/2019). (Baca juga: Kasus DBD di Jakarta Naik 2 Kali Lipat, Anies: Ini Ancaman Serius)

Baca Juga:

Meenurut Nurhayati, Andre saat itu baru pulang kerja. Dia mengeluhkan badannya sakit, nyeri, mual, dan kepalanya pening. Keluarga yang curiga lalu membawanya ke puskesmas. (Baca juga: Tangsel Endemi Demam Berdarah Dengue, Tercatat 3 Warga Meninggal Dunia)

“Curiganya dari awal memang kena demam berdarah. Karena katanya badannya pada sakit, pegal, ngilu semua. Kepalanya juga pusing. Makanya langsung dibawa menuju ke puskesmas untuk diperiksa,” ungkapnya.

Sebelum dirujuk, Andre juga sempat dirawat selama satu malam di puskesmas. Saat itu, trombosit darahnya sudah turun jadi 65 ribu. Paginya, dia dirujuk ke RSU Kota Tangerang Selatan.

“Trombositnya turun terus. Saat di RSU dia dirawat di ruangan IGD. Trombositnya turun terus, jadi 4.000, lalu 2.000, dan 1.800, hingga sempat drop dengan trombosit hanya 1.100, dan naik lagi 1.800,” terangnya.

Setelah berhari-hari menjalani perawatan di RSU, kondisi Andre tidak bertambah baik. Sebaliknya, kondisinya semakin menurun hingga akhirnya meninggal dunia.

Berdasarkan pengamatan, rumah Andre termasuk kawasan padat penduduk. Namun, masih ditemukan sejumlah lahan kosong yang menjadi sarang nyamuk, saluran air yang kotor, dan kandang unggas.

Kondisi ini telah berlangsung sejak lama. Menurut keluarga korban, sejak DBD mulai mewabah wilayah Tangsel, belum ada petugas Dinas Kesehatan yang mengontrol.

“Belum ada yang ngecek (jumantik). Kalau fogging, pernah tiga bulan lalu. Habis itu, enggak ada lagi. Padahal di sini sudah banyak yang kena DBD, belasan jumlahnya. Yang meninggal baru satu,” sebut Nuryati.

Sementara itu, Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany mengatakan, pihaknya masih terus melakukan pemantauan terkait perlu tidaknya menentukan kejadian luar biasa (KLB).

“Kita akan menentukan apakah itu kejadian luar biasa atau belum. Itu harus sesuai data, kapan dan regulasi yang berlaku, untuk menentukan KLB atau bukan,” katanya.

Airin melanjutkan, Pemkot Tangsel akan mendorong masyarakat untuk melakukan jumantik. Pihaknya juga telah menerjunkan satu kader jumantik setiap satu rumah. Sayangnya, program ini ada di Kecamatan Pamulang.

“Dengan kader satu rumah satu jumantik, diharapkan tidak terjadi DBD. Kita lihat, kita pantau. Di Pamulang, program itu sudah 100{d8fec6297a4cfe7f92d0a3b7b5ff8deafe35a908531dc6f9198f667afc4e870b}. Setiap kelurahan ada,” pungkasnya.

(thm)