http://cozypan.com

Pemkot Bekasi Perbesar Kapasitas Pengolahan Tinja

loading…

Sejumlah kendaraan bermotor melintas di salah satu gerbang masuk Kota Bekasi.Foto/SINDOnews/Dok

BEKASI – Kapasitas pengolahan lumpur tinja atau pengolahan air limbah domestik (PALD) milik Kota Bekasi pada tahun ini akan ditambah menjadi 500 meter kubik (m3) per hari. Sebelumnya, kapasitasnya hanya mampu menampung 110 meter kubik setiap hari.

”Kapasitasnya segera diperbesar menjadi 500 m3, agar menampung lebih banyak, dan segara kita realisasikan,” ujar Kepala UPTD PALD Kota Bekasi, Andrea Sucipto pada Kamis (24/1/2019).

UPTD PALD dipercaya pemerintah daerah untuk mengelola lumpur tinja dan air limbah domestik. Secara teknis, unit ini merupakan perpanjangan dari Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kota Bekasi untuk mengelolanya di Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantar Gebang.

Baca Juga:

Selain memperbesar kapasitas, lanjut Andrea, pemerintah akan membangun mesin pengolahan PALD yang baru di Kelurahan Harapanbaru, Kecamatan Bekasi Utara. Rencananya, Januari 2020 mendatang PALD Harapanbaru sudah bisa beroperasi melayani masyarakat.

Untuk kapasitasnya, bisa mengelola limbah domestik sebesar 150 m3 per hari. Selain itu, output air jernih yang dihasilkan dapat digunakan untuk mandi, cuci, dan sebagainya guna kebutuhan sehari-hari.”Teknisnya nanti ke sana, sekarang PALD ini akan dibangun,” ujarnya.

Andrea menjelaskan, hasil akhir dari pengolahan limbah tinja ini menghasilkan air dan pupuk organik. ‎Menariknya, air yang dihasilkan ini lebih berkualitas dibandingkan dengan air Kali Bekasi, yang sudah tercemar. Namun, air ini hanya dibuang ke kali belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mandi cuci dan kakus (MCK).

“Output pengolahan limbah menghasilkan air yang kualitasnya lebih baik daripada air Kali Bekasi,” ujarnya. Bahkan, unsur kimia COD‎ (Chemical Oxygen Demand) dan BOD (Biological Oxygen Demand‎) jauh di bawah ambang mutu yang ditentukan.

COD yang dihasilkan mesin PALD ini hanya 7 dan BOD 19 (berkualitas baik). Sedangkan, bakteri E-coli telah dimatikan dengan kaporit. Selain air jernih, mesin pengolahan limbah tinja yang didatangkan dari Jerman ini, juga menghasilkan pupuk organik dari lumpur tinja.

Andrea menuturkan, mesin pengolahan lumpur tinja di PALD Sumur Batu sudah beroperasi awal 2017 lalu. Saat ini, Kota Bekasi menjadi pusat kajian bagi daerah-daerah lain dalam hal pengolahan lumpur tinja. Misalnya, Sleman, Bali, Depok dan menyusul Makassar, menerapkan teknologi ini.

Sekretaris Disperkimtan Kota Bekasi, Imas Asiah menambahkan, pengolahan lumpur tinja dengan sistem mechanical electrical ini sebagai komitmen Bekasi menjaga kelestarian alam, tanpa membuang limbah tinja sembarangan. ”Makanya kita buat terobosan seperti ini,” katanya.

Menurutnya, Bekasi akan menambah beberapa lokasi unit pengolahan limbah tinja, beberapa waktu ke depan. Sebab, hal itu sudah tertuang dalam RPJMD (Rencana Panjang Jangka Menengah Daerah) Kota Bekasi, sudah ada lokasi baru yang akan dibangun PALD.

Misalnya di Harapanbaru, Pondok Gede, dan Medan Satria. Bahkan, bakal ditingkatkan kapasitasnya dari yang sudah eksisting di Sumur Batu. Sebab, limbah domestik yang ditampung di septic tank rumah warga akan diolah kembali dalam sistem mechanical itu.

(whb)